Perseteruan antara praktisi supranatural dan pesulap merah beberapa waktu lalu membuka kotak pandora mengenai fenomena Percaya Gaib Indonesia yang masih sangat mengakar kuat. Di era teknologi 5G dan kecerdasan buatan, ternyata banyak masyarakat kita yang masih lebih memilih datang ke dukun daripada ke dokter atau psikolog saat menghadapi masalah hidup. Fenomena ini bukan sekadar masalah kurangnya pendidikan, melainkan adanya keterikatan budaya dan psikologis yang mendalam terhadap hal-hal mistis yang sudah diwariskan secara turun-temurun selama berabad-abad.
Salah satu alasan mengapa Kepercayaan Gaib Indonesia tetap eksis adalah karena dukun sering kali berperan sebagai “psikolog alternatif” yang menawarkan solusi instan dan penjelasan yang mudah diterima oleh logika tradisional. Saat seseorang mengalami kebuntuan ekonomi atau asmara, penjelasan mistis seperti “diguna-guna” memberikan rasa lega karena kesalahan seolah-olah berasal dari faktor eksternal, bukan kegagalan pribadi. Di sisi lain, pesulap berusaha membongkar trik-trik tersebut dengan logika fisika dan kimia, namun sering kali logika dingin ini dianggap kurang memuaskan bagi mereka yang sedang mencari keajaiban dalam kesulitan hidupnya.
Secara sosiologis, Percaya Gaib Indonesia juga dipelihara oleh industri hiburan dan media sosial yang sering kali mendramatisasi konten-konten mistis demi rating. Cerita tentang santet, pelet, hingga pesugihan selalu menjadi komoditas yang laku keras. Hal ini menciptakan lingkaran setan di mana masyarakat terus-menerus disuapi narasi gaib, sehingga kewaspadaan rasional mereka perlahan menumpul. Padahal, banyak kasus “kesurupan” yang secara medis bisa dijelaskan sebagai gangguan disosiatif atau histeria massa, namun narasi jin dan roh jahat jauh lebih populer untuk dibicarakan di pos ronda maupun kolom komentar netizen.
Meskipun demikian, kita harus bisa membedakan antara pelestarian budaya spiritual dan praktik penipuan berkedok agama atau mistis. Edukasi yang dilakukan oleh para pesulap atau ilmuwan sebenarnya bertujuan untuk melindungi masyarakat dari eksploitasi finansial oleh oknum dukun palsu. Kita boleh menghargai tradisi leluhur, namun tetap harus kritis terhadap klaim-klaim yang tidak masuk akal, terutama yang meminta bayaran fantastis dengan janji kesembuhan atau kekayaan instan. Keseimbangan antara menghormati budaya dan mengedepankan logika adalah kunci agar bangsa ini tidak mudah dimanipulasi oleh takhayul yang merugikan.