Industri makanan menghadapi tekanan ganda: perang diskon yang agresif dari peritel besar dan dominasi produk private label (merek sendiri) yang dijual dengan harga lebih rendah. Dalam lingkungan yang kompetitif ini, Strategi Bertahan produsen makanan tradisional harus bergeser dari mengandalkan volume semata menjadi menciptakan nilai tambah yang unik. Konsumen semakin mencari nilai, bukan hanya harga termurah, yang memaksa produsen untuk berinovasi tanpa henti.
Salah satu Strategi Bertahan yang paling efektif adalah diferensiasi melalui inovasi produk. Produsen harus berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan untuk menciptakan produk dengan formula unik, fungsional, atau yang memenuhi kebutuhan diet khusus (misalnya, bebas gluten, vegan, atau organik). Produk dengan klaim kesehatan yang jelas dan bersertifikat ini dapat membenarkan harga premium, membebaskan mereka dari jebakan perang harga yang dimainkan oleh produk private label generik.
Strategi Bertahan lain yang sangat penting adalah fokus pada niche market dan branding yang kuat. Daripada bersaing langsung di rak-rak ritel mainstream, produsen dapat menargetkan pasar yang lebih kecil namun setia, seperti makanan etnis, produk lokal, atau makanan gourmet. Membangun cerita merek yang kuat tentang sumber bahan baku, proses produksi yang etis, atau warisan kuliner menjadi Peningkat Nilai emosional yang sulit ditiru oleh merek ritel besar.
Strategi Bertahan juga mencakup efisiensi operasional dan Manajemen Risiko rantai pasok. Produsen harus mengadopsi teknologi otomatisasi untuk memangkas biaya produksi dan mengurangi limbah. Kontrol kualitas yang ketat membantu menghindari penarikan produk (recall) yang merusak reputasi dan finansial. Dengan menjaga biaya operasional tetap rendah, produsen memiliki margin yang lebih fleksibel untuk disesuaikan saat peritel menuntut diskon atau promosi yang besar.
Menghadapi dominasi private label, produsen dapat memilih untuk berkolaborasi daripada bersaing. Menjadi produsen pihak ketiga (co-packer) untuk merek private label ritel adalah cara untuk memastikan utilitas kapasitas pabrik tetap tinggi. Siklus Laba dari co-packing mungkin lebih rendah, tetapi menjamin pendapatan yang stabil dan berkelanjutan, yang penting untuk menjaga kesehatan finansial perusahaan di tengah ketidakpastian pasar.
Mengembangkan Infrastruktur digital adalah keharusan. Produsen harus membangun kanal penjualan langsung ke konsumen (Direct-to-Consumer atau D2C) melalui e-commerce. Kanal D2C memberikan kontrol penuh atas harga, memungkinkan margin keuntungan yang lebih baik, dan memfasilitasi pengumpulan data pelanggan yang berharga. Data ini kemudian digunakan untuk menyesuaikan produk dan strategi pemasaran secara lebih personal.
Negosiasi yang cerdas dengan peritel adalah kunci Strategi Bertahan. Produsen harus memahami kekuatan merek mereka dan menggunakan data penjualan untuk membenarkan ruang rak yang lebih baik. Membangun hubungan yang saling menguntungkan dengan peritel, daripada hanya berfokus pada konflik, dapat menghasilkan kesepakatan yang lebih adil mengenai harga promosi dan biaya penempatan produk.